OMONG KOSONG ITU DISEBUT SERTIFIKASI

Inilah negeri penuh omong kosong!

Setiap hari kita mendengarkan banyak sekali omong kosong di negeri ini, omong kosong yang terdengar indah namun tidak ada realisasi ataupun kalaupun ada hanya sebatas memenuhi aspek formalitas saja. Omongkosong itu ada yang berupa janji-janji kampanye para pemimpin, pernyataan para elit politik, acara-acara TV, peraturan bahkan undang-undang.

Di dunia pendidikan juga banyak omongkosong, omongkosong yang paling hot adalah ujian nasional, inilah omongkosong terbesar di dunia. Jutaan orang mendengarkan, berdebat, menganalisa, melakukan penelitian, dan menulis tentang omongkosong ini. Ujian Nasional juga merupakan omongkosong termahal di dunia, berapa milyar uang rakyat di habiskan untuk omongkosong ini. Apa hasilnya ? Namanya juga omongkosong, hasilnya adalah anomali. Tapi bukankah negeri ini juga negeri yang penuh anomali?

Di negeri lain yang normal, ujian nasional bisa meningkatkan kualitas pendidikan. Tapi di negeri ini ujian nasional malah meningkatkan pelacuran akademis yang pada akhirnya membuat harkat pendidikan dan pendidik semakin terpuruk.

Dan omongkosong terbaru adalah SERTIFIKASI GURU, kenapa disebut omongkosong? Sertifikasi guru dimaksudkan untuk menilai kompetensi seorang guru. Untuk menilai kompetensi harusnya melalui Uji kompetensi dan Survei langsung ke lapangan ke tempat guru tersebut bekerja bukan dengan penilaian portofolio seperti sekarang ini. Alih alih ingin meningkatkan kualitas malah bisa menimbulkan ketegangan dan kecemburuan antar guru, sebab tidak menutup kemungkinan guru yang malas dan tidak berdedikasi malah lulus sertifikasi.

Ah jadi malas meneruskan tulisan ini!

6 Tanggapan ke “OMONG KOSONG ITU DISEBUT SERTIFIKASI”

  1. Asep Saepudin Berkata:

    Omong-omong soal omong kosong, jadinya banyak masyarakat pendidik dinegara kita, siswa & mahasiswa harapan bangsa juga ikut dilahirkan prematur dengan penuh kekosongan tadi. Tidak ada lagi kualitas yang dapat di manfaatkan apalagi dapat diandalkan.
    Tetapi memang tidak dapat di seragamkan, karena masih banyak juga para pendidik dan anak-anak didik yang masih memiliki rasa tanggung jawab bahwa mereka akan membawa diri dengan berbagai gelar dan membawa secarik kertas transkrip. Masih banyak (tapi tidak lebih banyak dari yang kosong tadi), yang merasa malu membawa namanya di embel-embeli gelar, sedangkan kemampuan tidak sepadan. Biasanya mereka yang sedikit memiliki idealis terhadap dirinya, masih memiliki semangat untuk terus menggali sementara temen-teman lainnya enak-enak tidur menunggu waktunya tiba, semua dapat terselesaikan dengan mudah karena semua hanya formalitas.
    Mengusut soal sertifikasi, saya pernah membanggakan salah satu sertifikasi internasional yang pernah saya ikuti, tetapi pada akhirnya sertifikasi internasional tersebut yang diselenggarakan di negara kita berubah menjadi sebuah formalitas belaka.
    Barangkali salah satu kepedulian pakar-pakar pendidik adalah dengan dikembangkannya Program Jardiknas, ICT, Beasiswa unggulan yang mudah2an dapat diselenggarakan dengan penuh tanggung jawab sebagai bagian dari komponen yang harus turut mengembangkan keterpurukan bangsa kita.
    Kalau bicara mengenai keterpurukan, sepertinya pembicaraan tidak akan pernah habis. Untung saja sudah dekat waktu sholat Jum’at, jadinya saya bisa berhenti menulis ini pak, kalau tidak sampai mata saya ga kuat lagi menahan kantuk nanti sekitar jam 2 pagi, mungkin saya masih menulis….

  2. awan sundiawan Berkata:

    Saya juga malas mengomentarinya. :D

  3. krizal Berkata:

    salam… ya di mana-mana aja ada omong kosong ya

  4. OMONGKOSONG | Asep Saepudin's Boxlog Berkata:

    [...] kan hanya sampai disini. Silakan memberikan saran atau komentarnya disini atau di halaman blog kang Endang Muhtadin, sumber tulisan ini. Popularitas: 2% [?] Sphere: Related [...]

  5. kangguru Berkata:

    hihihihiih males pak ngomongin itu hehehhe

  6. Abdul Majid Berkata:

    SERTIFIKASI? ehm…. yang lulus gaji besar kalau yang gak…? ya… seharusnya guru sadang donk kalau emang tanggungjawabnya mengajar, ya mengabdilah dengan keilhlasan….jangan cari gaji besar dech.. entar orientasinya hanya gaji besar..

Tinggalkan Balasan