PENJARAKAN SAJA SEMUA GURU
Surat Terbuka Kepada Penguasa Yang Congkak!
Bapak-bapak Penguasa,
Sudah 3 tahun kami simpan nilai-nilai moral pendidikan di lemari ketidak jujuran. Kami telah menjadi guru-guru yang menghianati hati nurani dan kebenaran, kami terjerumus dalam hedonisme dan kemunafikan yang disemai oleh para politisi pemuja demokrasi dan liberalisme.
Sudah tiga tahun, kami para guru berurai airmata mengamini ambisi para politisi yang ingin di puji berhasil meningkatkan kualitas pendidikan yang kemudian bersama dengan birokrasi membuat aturan-aturan yang sok moralis dan populis tanpa tahu permasalahan apa yang sesungguhnya dihadapi para guru di lapangan.
Wahai para penguasa berhati besi,
Coba tatap muka para guru di daerah betapa peluh mereka bercucuran membanjiri anak-anak yang tidak ada motivasi belajar karena jiwa mereka setiap hari di banjiri nilai-nilai hedonistic, materialistic, tahayul melalui media-media yang menyita seluruh waktu mereka, tak ada lagi waktu untuk belajar, tak ada semangat belajar tertanam dalam diri mereka sebab di mata mereka guru adalah orang yang ditertawakan di sinetron-sinetron.
Mereka tak Suka Belajar, karena televisi lah sesungguhnya guru mereka!
Penguasa, Sekarang Tanya diri anda !
Apakah ada yang telah anda perbuat untuk mencegah televisi meracuni anak-anak kita?
Tidak ada kan?
Karena ketika kita menginstall Demorasi Amerika di negara kita, plugin nya juga turut yaitu : Liberalisme dan Kapitalisme. Anda tidak berani menindak kaum kapital dibelakang jaringan media televisi karena mereka berlindung di balik slogan kebebasan(liberalisme) pers.
Saya hanya seorang guru fisika, tapi saya faham bahwa anda juga tidak bisa mengurusi Lumpur lapindo, ketika anda juga tidak bisa mengurus masalh BBM, ketika anda juga tidak bias mengurusi rakyat yang kekurangan gizi, sekarang anda seolah – olah merasa orang –orang paling pintar dengan merampas hak-hak guru dan hak-hak siswa untuk mendapatkan pendidikan
Apakah anda menganggap bahwa anak sekolah supaya pintar?
Coba anda renungkan contoh berikut ini :
Saya memiliki seorang murid, dia berasal dari keluarga tidak mampu ( karena pemerintah yang tidak bisa mengurusi negara ) , yang mungkin ketika masih kecil dan sampai sekarang tidak mendapat asupan gizi yang memadai jadi wajar kalau dia tidak pintar , tetapi kami berhasil menjadikannya seorang ketua OSIS kemudian menjadi Juara III Lomba Story Telling dan Juara II Speech Contest Tingkat Kabupaten tetapi ketika kami mengadakan try out UJIAN NASIONAL , DIA TIDAK LULUS! KARENA MENDAPAT NILAI 3,75 UNTUK PELAJARAN MATEMATIKA. Dan kalau pada UJIAN NASIONAL itu terjadi, dia tidak lulus hanya karena dia tidak pintar matematika dan kemudian dia tidak melanjutkan sekolah berarti kita tellah merampas hak dasar dia untuk berkembang dan memperoleh pendidikan. Padahal dia bisa saja menjadi penyiar TV atau menjadi Wakil Presiden, karena untuk menjadi Wakil Presiden tidak harus pandai Matematika, kan ?
Coba anda renungkan, sekarang anda menangkapi beberapa teman guru dan memenjarakan mereka karena mereka mencoba “ menolong siswa “ agar hak dasarnya tidak dirampas oleh pemerintah. Maka besok PENJARAKAN SEMUA GURU DI INDONESIA, karena mereka semua menjadi bagian dari ketidak jujuran ini. Sekali lagi KITA semua para guru sudah menjadi bagian dari ketidak jujuran ini dan kami ingin mengakhiri semua ini sekarang. PENJARAKAN KAMI SEMUA biar kami dapat menebus semua kesalahan kami.
Dan setelah ini TIDAK ADA LAGI UJIAN NASIONAL
KITA HARUS LAWAN KEBIJAKAN YANG PREMATUR INI !
Kalau para penguasa masih tidak mau mendengar suara kita, biarkan mereka mengurusi sendiri UJIAN NASIONAL TAHUN DEPAN, biar UN tahun depan dilaksanakan oleh Tim Independen dan Diawasi oleh Polisi atau Tentara dan mereka akan JATUH karena akan ada jutaan siswa yang tidak lulus, jutaan orang akan turun ke jalan, ribuan sekolah akan hancur dan akhirnya para penguasa akan lari terkencing-kencing.
Mudah-mudahan tidak terjadi ! amin





Mei 3, 2008 pukul 12:50 am |
itulah yang terjadi, pak, kalau para elite negeri ini salah mengurus pendidikan dan negara. ujian nasional yang mestinya bukan sebagai penentu kelulusan, tetapi justru didewakan lewat angka2. sdh terlau banyak korban berjatuhan dan nyata2 telah mengebiri potensi siswa didik. kita semua tahu bahwa setiap siswa didik membawa potensi dirinya masing2 dan tdk bisa diseragamkan. namun, UN benar2 telah mematikan dan membunuh potensi anak. dikira dg menyamaratakan potensi anak dg nilai menimal 4,25 anak2 negeri ini bisa jadi verdas. nonsens. anak yang memiliki kemampuan di bidang bahasa, misalnya, tetapi lemah penguasaannya dalam matematika atau IPA, sebenarnya mereka bukanlah anak yang bodoh. tapi ironisnya, UN telah memberikan stigma dan vonis bodoh di jidat anak2 kita. maju terus, pak, saya selalu mendukung sikap kritis dan kreatif dari rekan2 sejawat utk menyuarakan kebenaran. tapi saya ndak habis pikir juga, kenapa rekan2 sejawat kita mesti dipenjarakan? saya masih belum jelas bener persoalannya!
Mei 3, 2008 pukul 12:52 am |
untuk menyemangati rekan2 sejawat dalam menyuarakan nilai2 kebenaran, mari kita coba nikmati dulu puisi wiji thukul berikut ini, pak:
jika rakyat pergi
ketika penguasa pidato
kita harus hati-hati
barangkali mereka putus asa
kalau rakyat sembunyi
dan berbisik-bisik
ketika membicarakan masalahnya sendiri
penguasa harus waspada dan belajar mendengar
bila rakyat tidak berani mengeluh
itu artinya sudah gawat
dan bila omongan penguasa
tidak boleh dibantah
kebenaran pasti terancam
apabila usul ditolak tanpa ditimbang
suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
dituduh subversif dan mengganggu keamanan
maka hanya ada satu kata: lawan!
selamat berjuang, pak! bravo guru indonesia!
Mei 3, 2008 pukul 4:23 am |
hardik(nas) kali ini memang begitu terasa hampa, inginnya saya menulis sesuatu namun kehampaan malah membuat saya menyanyi, duh biyung…. ketika kami mendidik yang didapat hanya hardik yang tidak bernas…. ah sudahlah nyanyi lagi
urus saja moralmu
urus saja akhlakmu
peraturan yang sehat yang kami mau
Mei 3, 2008 pukul 7:36 am |
Walah kang! perkejaan rumah ini sepertinya tidak yakin dapat menemukan titik akhir. Kalau saya memperhatikan dilemasi yang telah berubah menjadi tugas harian para petinggi negara, sepertinya tidak ada satu keturunan kita pun yang akan dapat merasakan negara berkembang ini menjadi negara yang lebih maju, bahkan bisa dimungkinkan negara ini statusnya malah akan menjadi negara yang miskin. Miskin moral jelas-jelas akan melahirkan kemiskinan-kemiskinan di sana-sini.
Pada awalnya saya meyakini system ini di lahirkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Tetapi karena oknum terlatih di atas sana menyikapi bahwa ini adalah peluang, maka pola pikir bisnis dalam otak ngeres mereka akhirnya lahir. Jadilah anggaran pendidikan terkena tarikan magnet di sisi-sisi pipa yang harusnya membantu turunnya kuncuran dana pendidikan ke bawah. Mudah-mudahan saya salah. Tapi apa benar pemikiran untuk menggulirkan system pengujian seperti yang tengah kita rasakan selama beberapa tahun ini telah memberi dampak peningkatan terhadap kualitas pendidikan anak bangsa? Yang justru mencuat adalah lahirnya bapak dan ibu bangsa yang lupa akan kewajiban mereka sebagai pendidik. Kalau saya perhatikan, malah yang menonjol adalah tumbuhnya sekolah-sekolah berorientasi bisnis, bukan hanya sekolah suasta yang memang dari sanalah makan tidak makannya mereka, sekolah negeripun mulai nampak orientasi bisnisnya.
Nah! kalau lembaga pendidikan sudah berubah menjadi institusi penghasil laba, lalu mau diapakan bahan baku yang kita olah selama 3, 6 sampai 9 tahun ini? Apalagi mereka yang di himpit kesulitan, apakah mereka harus menanggung menjadi keturunan-keturunan sulit selamanya?
Belum lagi dengan “alat ukur” yang telah diciptakan system. Tumbuh kembang kemisikinan moral, dan penipuan terhadap hati nurani malah semakin menakutkan. Ya Allah…, ampuni kami. Kami sangat takut sertifikasi yang kami peroleh dengan sangat mudah dan murah, karena Rp. 50.000,- dan nongkrong 30-60 menit dalam acara sertifikasi yang diselenggarakan beberapa penyelenggara bisa kami dapatkan dengan tertulis 30 jam. Konon katanya ini bekal nanti untuk meningkatkan tunjangan-tunjangan. Mengerikan. Maafkan kami yang belum mampu meningkatkan mutu iman dan mental anak-anak kami, karena kami dihimpit dengan berbagai kepentingan. Mereka yang diatas, yang berstatus sebagai pelayan bagi kami, telah berubah menjadi manja ingin dilayani, disuguhi. Ampuni dosa bangsa ini. Kembalikan kami kepada kebenaran, luruskan hati kami. Jauhkan ingkar dalam perjalanan hidup kami. Amien..
Mei 3, 2008 pukul 12:04 pm |
Satir LIHAT (dalam gundah)
Salam Hardik (ujian nasional)Nas !
…… LIHAT congkaknya Sang Penguasa
…….LIHAT sepertinya mereka sedang merayakan perhelatan perkawinan dan kita adalah dayang2nya yang harus selalu menghamba, dan menyajikan hidangan2 yang lejat2 di pesta mereka….
…..LIHAT ketika masakan yang yang kita buat kurang enak, padahal yang membuat resep adalah mereka,mereka menghardik dengan congkaknya berkata: “Hai dayang2 ,apa mau kalian saya berhentikan !” , bahkan melemparkan piring2 yang bersisa makanan.
…..LIHAT dengan begonya kita berkata ;”Tidak Tuan,kasihan anak2 kami, dari mana mereka makan “.
….LIHAT begitu kurusnya kita.
….LIHAT begitu tidak bergizinya makanan kita.
….LIHAT begitu tak cukupnya UPAH kita
….LIHAT begitu reyotnya rumah kita
….LIHAT….LIHAT…. !
….LIHAT mereka cuma melihat
….LIHAT mereka sinis
….LIHAT mereka tidak mau mendengar
….LIHAT kapan kamu bisa mendengar dan melihat dengan hati NUR ILAHI…
……..???????????????……….
salam kenal DANG !
salam buat keluarga
Sobatmu
aminhers
Mei 3, 2008 pukul 1:17 pm |
UN tetap berjalan
UN dilakasanakan hanya untuk mengukur keberhasilan perserta dalam menempuh pendidikannya
UN BUKAN UNTUK MENGUKUR KEBERHASILAN PENDIDIKAN
UN BUKAN UNTUK MENENTUKAN KELULUSAN
UN TIDAK BISA DIJADIKAN PATOKAN KEBERHASILAN PENDIDIKAN
Pendidikan yang hakiki adalah pendidikan moral dan mental manusia
Mei 7, 2008 pukul 9:07 pm |
Inna lillahi wa inna ilaihi ro’jiuun…
Sebaik-baiknya jihad adalah berkata lantang (tentang kebenaran) kepada penguasa yang dzalim!
Kalau guru akreditasinya (statusnya) “di SAMAkan” dengan teroris, bagaimana dengan muridnya???
Wallahu ‘alam…
Miris.. melihat Indonesian di masa depan..
Yang ada adalah kengerian.. dan kegalauan..
anak bangsa …
Mei 19, 2008 pukul 8:01 pm |
maunya pendidikan kita setara dengan negeri lain….
kok malah sebaliknya terjadi??
Indonesiagituloh
Mei 20, 2008 pukul 5:48 am |
Tangkap semua guru yang tidak bermoral. membocorkan ujian. Buat apa diadakan ujian kalau jawabannya dikasih tahu.
Yang dibutuhkan sekarang adalah guru yang bermoral tinggi, bagaima mungkin tercipta pemimpin yang baik kalau gurunya saja tidak baik, memberi contoh yang buruk.
Murid malas, dan terlena dengan televisi malah dibela, menyalahkan pemerintah. Jangan hanya bisa menyalahkan, mulai dari diri sendiri. Kalau cumabis menyalahkan semua orang juga bisa, anak kecil juga bisa, orang tidak sekolah juga bisa.
September 8, 2008 pukul 3:00 pm |
alhamdulillah, bisa mampir kemari…ke blog pak guru…banyak kemanfaatn yang bisa diambil di dalamnya.semoga menjadi awal silahturahim yang baik…^_^
Januari 23, 2009 pukul 3:38 pm |
apakah para pemimpin berani mengerjakan soal Ujian Nasional? mungkin suatu saat pemimpin perlu mengerjakan soal UN, biar mereka tahu, betapa susahnya soal itu
Maret 10, 2009 pukul 11:05 pm |
Yah begitulah Pak Endang, yang mereka pahami sekolah seperti sebuah pabrik yg dapat mengeluarkan produk yg seragam, tidak memahami manusia sebagai pribadi unik yang memiliki potensi yg berbeda. Mereka (siswa) berhak untuk mengembangkan potensi unik yg dimilikinya itu, bukan dipaksa untuk seragam.
April 16, 2009 pukul 1:35 am |
aminnnn
April 19, 2009 pukul 5:09 pm |
Itulah keadaan negara kita, belom sempurna dan mungkin memang ga akan sempurna, memang memprihatinkan.
Tapi masih banyak juga guru yang ga bisa dicontoh, yang melakukan hal-hal yang ga patut dilakukan oleh seorang guru, terutama akhlaknya.
Sementara masih banyak guru yang masih dalam pengabdian yg dah berjuang cukup lama dan akhlaknya bagus.
Dan masih banyak juga profesi selain guru yang sangat memperihatinkan, para guru sebaiknya juga bersyukur jangan terlalu besar-besarkan nafsu amarah, nanti malah menurunkan citra guru karena diluar masih banyak juga orang yang kecewa sama guru.
Guru yang ga bisa dicontoh sebaiknya gantikan aja dengan guru pengabdian yg kualitasnya lebih bagus dan sudah lama mengabdi.
April 19, 2009 pukul 7:42 pm |
Emang sich, saat ini guru kayak di belenggu oleh Kebijakan… Semoga belenggu ini segera berakhir. Amin
April 19, 2009 pukul 8:59 pm |
Konon, ketika Jepang diluluhlantakkan oleh Sekutu, dan perang usai, Kaisar Hirohito bertanya pada Perdana Menteri berapakah jumlah guru yang masih hidup. Jepang sangat menghargai profesi seorang pendidik / guru karena profesi gurulah yang mencetak semua profesi yang ada di negeri Jepang. Hal tersebut juga pasti sama di negeri ini. Tapi bagaimana timbal balik para pejabat pemerintah di departemen pendidikan kepada guru di negeri ini?
April 19, 2009 pukul 9:03 pm |
Di negeri ini, banyak sekali profesor dan doktor, tapi kenapa model UAN tidak bermutu? Untung saya sudah lulus sekolah di era 90an, yang tidak ada model UAN “membunuh” masa depan siswa, kalo tidak, saya tidak yakin bisa lulus sekolah, karena kemampuan Matematika saya terbilang buruk, tapi kemampuan bahasa Inggris dan lain-lain, alhamdulillah, EXCELLENT.
April 19, 2009 pukul 11:35 pm |
Udah UN masuk Universitas ujian lagi, usul tuk UN ditiadakan. Ini akan memberi mereka yg berprestasi dibidang tertentu akan bisa masuk dgn cara beasiswa kaya di Amerika. Siswa atlet dpt msk Universitas dgn beasiswa prestasi meski dlm studi mereka bodoh. Kenapa di Indonesia tidak bisa? dobrak sistem untuk mendapatkan sesuatu yg lbh baik.